Asam Urat & Pegal Linu


26 Dec 2023
Informasi

Pegal linu adalah tanda bahwa tubuh sedang melawan penyakit. Namun makin keras kerja tubuh, makin hebat pegal linu yang terasa. 

Adapun bila yang terasa hanya pegal linu, penyebabnya bisa berbagai macam, antara lain:

  • Salah posisi tidur sehingga ada sejumlah bagian tubuh yang mendapat tekanan terlalu besar
  • Waktu tidur/istirahat kurang sehingga tubuh terpaksa bekerja ekstra dalam jangka waktu lama
  • Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi yang menyebabkan tubuh kekurangan tenaga
  • Jarang bergerak aktif, termasuk olahraga, sehingga kinerja tulang dan otot tidak terlatih dan mudah sakit-sakitan
  • Melakukan aktivitas fisik berlebih yang menguras terlalu banyak energi dan membebani bagian tubuh tertentu
  • Kekurangan vitamin D yang mengakibatkan gangguan kesehatan tulang
  • Efek samping vaksin
  • Efek samping obat-obatan tertentu
  • Gejala penyakit tertentu, seperti fibromyalgia dan sindrom kelelahan kronis

Jika yang dialami adalah badan meriang dan pegal linu, kemungkinan besar itu gejala flu. Flu sendiri terdiri atas berbagai jenis, dari flu biasa, flu Singapura, flu burung, hingga flu babi. Penyakit yang menjadi pandemi sejak 2020, yakni Covid-19, juga menimbulkan gejala badan meriang mirip flu pada beberapa pasien.

Penyakit lain dengan gejala meriang dan pegal-pegal termasuk:

  • Artritis atau peradangan pada sendi
  • Cedera akut, seperti keseleo dan terkilir
  • Saraf terjepit
  • Masalah lempeng pertumbuhan (growth plate) pada anak dan remaja
  • Kejang otot
  • Penyakit autoimun seperti lupus dan multiple sclerosis
  • Gangguan sistem peredaran darah
  • Fibromyalgia (rasa nyeri di sekujur tubuh karena penyakit tertentu)
  • Sindrom kelelahan kronis
  • Hipotiroidisme (kekurangan hormon tiroid)
  • Pneumonia (radang paru-paru)
  • Kanker

Cara utama untuk mengatasi badan meriang dan pegal linu adalah mengetahui apa penyebabnya dulu. Jika sudah ketahuan, penanganan difokuskan ke penyebab itu. Badan meriang dan pegal akan hilang seiring dengan hilangnya masalah kesehatan yang menyebabkannya.

Sembari menunggu hasil pemeriksaan dan perawatan, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk meredakan gejala tersebut. Misalnya:

  • Minum cukup air putih untuk menghindari dehidrasi. Air putih sangat penting bagi tubuh terutama ketika sedang melawan infeksi.
  • Mandi dengan air hangat untuk mengendurkan otot-otot yang kaku.
  • Beristirahat/tidur yang cukup untuk menguatkan sistem pertahanan tubuh.
  • Minum obat pereda nyeri seperti asetaminofen atau ibuprofen, terutama jika mengalami gejala flu.
  • Makan sayuran dan buah untuk menambah kekuatan imun.
  • Bila badan meriang dan pegal linu karena flu biasa, umumnya tak perlu mendapat pengobatan khusus di rumah sakit. Gejala yang menyertai flu antara lain batuk dan pilek, sakit kepala, sakit tenggorokan, dan demam. Flu dapat dicegah dengan mendapatkan vaksin influenza setiap tahun.
  • Kapan Harus ke Dokter?
  • Badan meriang dan pegal linu karena infeksi virus flu biasa biasanya akan mereda dalam beberapa hari. Untuk membantu mempercepat pemulihan, Anda bisa mengonsumsi obat flu yang bisa dibeli di apotek dan menggunakan obat alami atau herba. Namun jika gejala ini tak kunjung hilang setelah lebih dari 5 hari, sebaiknya datangi dokter.

PENYAKIT ASAM URAT

Penyakit asam urat adalah penyakit sendi yang disebabkan oleh tingginya asam urat di dalam darah. Kadar asam urat yang tinggi di dalam darah melebihi batas normal menyebabkan penumpukan asam urat di dalam persendian dan organ tubuh lainnya. Penumpukan asam urat inilah yang membuat sendi sakit, nyeri, dan meradang (Sutanto, 2013).

Selain itu asam urat merupakan hasilmetabolisme normal dari pencernaan protein (terutama dari daging, hati,ginjal, dan beberapa jenis sayuran seperti kacang dan buncis) atau dari penguraian senyawa purin yang seharusnya akan dibuang melalui ginjal,feses, atau keringat (Sustrani et al. 2008).

Kondisi asam urat yang meningkat dalam tubuh akan terjadi penumpukan asam urat pada sendi akan membentuk kristal yang ujungnya tajam seperti jarum. Kondisi ini menimbulkan respon peradangan dan berakhir dengan serangan gout (Kertia, 2009)

Gejala yang dirasakan dan tanda yang sering muncul pada penderita Gout diantaranya adalah (Vitahealth, 2005; Kusumayanti dkk, 2014):

  1. Rasa nyeri hebat dan mendadak pada ibu jari kaki dan jari kaki 
  2. Terganggunya fungsi sendi yang biasanya terjadi di satu tempat, sekitar 70-80 % pada pangkal ibu jari 
  3. Terjadi hiperurikemia dan penimbunan kristal asam urat dalam cairan dan jaringan sendi, ginjal, tulang rawan dan lain-lain; 
  4. Telah terjadi >1 kali serangan di persendian (arthritis) yang bersifat akut; 
  5. Adanya serangan nyeri pada satu sendi, terutama sendi ibu jari kaki. Serangan juga biasa terjadi di tempat lain seperti pergelangan kaki, punggung kaki, lutut, siku, pergelangan tangan atau jari-jari tangan; 
  6. Sendi tampak kemerahan; 
  7. Peradangan disertai demam (suhu tubuh >38oC), dan pembengkakan tidak simetris pada satu sendi dan terasa panas; 
  8. Nyeri hebat di pinggang bila terjadi batu ginjal akibat penumpukan asam urat di ginjal;

Kadar normal asam urat menurut WHO pada pria adalah 3,5 – 7 mg/dl & pada wanita 2,6 – 6 mg/dl.

Faktor– faktor yang mempengaruhi kadar asam urat dalam darah adalah faktor keturunan, jenis kelamin, konsumsi pangan yang kaya akan purin, konsumsi alkohol yang berlebihan, obesitas, gangguan ginjal yang mengakibatkan terhambatnya pembuangan purin, penggunaan obat tertentu yang dapat meningkatkan kadar asam urat. Asupan purin merupakan faktor utama yang berhubungan dengan kadar asam urat darah. Dimana, semakin tinggi pemasukan zat purin, maka asam urat juga semakin meningkat (Utami, 2010).

Penyakit asam urat dapat diobati dan dikelola secara efektif dengan perawatan medis dan strategi manajemen diri. 

Perawatan untuk serangan asam urat terdiri dari obat antiinamasi nonsteroid (NSAID) seperti : ibuprofen, steroid, dan kolkisin. 

Pencegahan serangan adalah dengan mengubah pola makan dan gaya hidup, seperti : menurunkan BB, membatasi alcohol, mengurangi makanan yang kaya purin (seperti daging merah dan jeroan), konsumsi air putih yang cukup. Konsumsi cukup air putih bisa membantu pengeluaran kelebihan asam urat sehingga dapat mencegah pengendapan asam urat pada sendi maupun ginjal.

Mengubah atau menghentikan obat yang terkait dengan hiperurisemia (seperti diuretik) juga dapat membantu. Untuk orang yang sering mengalami serangan asam urat atau asam urat berkepanjangan, dokter dapat merekomendasikan terapi pencegahan untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah menggunakan obat-obatan seperti allopurinol, febuxostat, dan pegloticase. 

Selain perawatan medis, asam urat dapat dikelola dengan strategi manajemen diri. Manajemen diri adalah apa yang dilakukan sehari-hari untuk mengelola kondisi dan tetap sehat

Pencegahan asam urat dengan menerapkan pola hidup sehat. Hal ini dilakukan dengan diet makanan yaitu dengan mengurangi konsumsi makanan tinggi purin. Selain itu juga melakukan olahraga secara teratur dan menurunkan berat badan apabila obesitas atau kelebihan berat badan (Wijayakusuma, 2006).

Sumber Referensi :

Priyamahospital.com

Sutanto, Teguh. 2013. Asam Urat. Buku Pintar: Yogyakarta.

Sustrani L, Syamsir A, & Iwan H. 2008. Asam Urat, Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya, Edisi 6. PT Gramedia Utama: Jakarta.

Utami, Fadillah. 2010. Hidup Sehat Tanpa Diabetes dan Asam Urat. Genius Publisher : Yogyakarta

Vitahealth. 2005. Asam Urat : Informasi Lengkap Untuk Penderita dan Keluarganya. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama

Kusumayanti, D., Wardani, NK., Sugiani, PPS. (2014). Diet Mencegah dan Mengatasi Gangguan Asam Urat. Jurnal Ilmu Gizi Volume 5 Nomor 1, Februari 2014 : 69 – 78

Wijayakusuma, H. (2006). Atasi Asam Urat dan Reumatik. Jakarta: Puspa Swara